
Dikisahkan, suatu hari Abu Bakar ra mendatangi Rasulullah saw,
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apa yang membuatmu datang, wahai Abu Bakar?”
Ia menjawab:
“Aku keluar karena rindu, ingin bertemu denganmu ya Rasulullah ﷺ, ingin memandang wajahmu, dan menyapamu dengan salam.”
Seolah-olah lisan Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata:
“Aku datang karena rinduku menarik langkahku kepadamu,
dan mataku enggan memandang apa pun selain wajahmu.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Abu Bakar tidaklah mengungguli kalian karena banyaknya salat atau puasanya,
namun ia mengungguli kalian karena sesuatu yang bersemayam dalam hatinya,
yaitu kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Wahai jiwa yang merindu,
Shalawat bukan hanya bacaan, tapi jembatan cinta antara dirimu dan Baginda Rasulullah ﷺ.
Ia adalah pintu adab kepada Allah, dan tangga ruhani untuk sampai kepada Nabi-Nya ﷺ.
Semakin engkau banyak bershalawat,
semakin dekat engkau dengan telaga al-Kautsar,
Semakin besar harapanmu untuk melihat wajah beliau yang mulia dan mendapat syafaat darinya ﷺ.
Wahai jiwa yang merindu,
Pernahkah engkau merasa hatimu terasa hampa ?
Bukan karena dunia, tapi karena engkau lupa menyebut nama kekasih sejati, Rasulullah ﷺ.
Wahai jiwa yang merindu,
Baginda Rasulullah tak pernah lupa mendoakanmu, bahkan ketika dirimu tak pernah menyebut namanya.
Dialah yang menangis untukmu, saat engkau tak sempat menangis karena rindu padanya.
“Orang-orang yang paling aku rindukan adalah mereka yang datang setelahku,
mereka yang beriman kepadaku padahal tak pernah melihatku.”
(HR. Ahmad)
Wahai jiwa yang merindu,
Pernahkah engkau merasa bahagia hanya karena menyebut namanya?
Pernahkah engkau bangga menjadi bagian dari umatnya?
Pernahkah engkau menangis saat bershalawat padanya?
Pernahkah engkau menunduk dan berkata :
Ya Rasulallah…
Aku adalah umatmu,
Yang tidak semasa denganmu, tidak pernah berjumpa denganmu,
Tidak pernah melihat wajah dan rupamu…
Namun aku mencintaimu…
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد
وعلى آله وصحبه أجمعين.