January 17, 2026

Dikisahkan, suatu hari Abu Bakar ra mendatangi Rasulullah saw,

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apa yang membuatmu datang, wahai Abu Bakar?”

Ia menjawab:

“Aku keluar karena rindu, ingin bertemu denganmu ya Rasulullah ﷺ, ingin memandang wajahmu, dan menyapamu dengan salam.”

Seolah-olah lisan Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata:

“Aku datang karena rinduku menarik langkahku kepadamu,
dan mataku enggan memandang apa pun selain wajahmu.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Abu Bakar tidaklah mengungguli kalian karena banyaknya salat atau puasanya,
namun ia mengungguli kalian karena sesuatu yang bersemayam dalam hatinya,
yaitu kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.”


Wahai jiwa yang merindu,
Shalawat bukan hanya bacaan, tapi jembatan cinta antara dirimu dan Baginda Rasulullah ﷺ.
Ia adalah pintu adab kepada Allah, dan tangga ruhani untuk sampai kepada Nabi-Nya ﷺ.

Semakin engkau banyak bershalawat,
semakin dekat engkau dengan telaga al-Kautsar,
Semakin besar harapanmu untuk melihat wajah beliau yang mulia dan mendapat syafaat darinya ﷺ.

Wahai jiwa yang merindu,
Pernahkah engkau merasa hatimu terasa hampa ?
Bukan karena dunia, tapi karena engkau lupa menyebut nama kekasih sejati, Rasulullah ﷺ.

Wahai jiwa yang merindu,
Baginda Rasulullah tak pernah lupa mendoakanmu, bahkan ketika dirimu tak pernah menyebut namanya.
Dialah yang menangis untukmu, saat engkau tak sempat menangis karena rindu padanya.

“Orang-orang yang paling aku rindukan adalah mereka yang datang setelahku,
mereka yang beriman kepadaku padahal tak pernah melihatku.”
(HR. Ahmad)

Wahai jiwa yang merindu,

Pernahkah engkau merasa bahagia hanya karena menyebut namanya?

Pernahkah engkau bangga menjadi bagian dari umatnya?

Pernahkah engkau menangis saat bershalawat padanya?

Pernahkah engkau menunduk dan berkata :
Ya Rasulallah…
Aku adalah umatmu,
Yang tidak semasa denganmu, tidak pernah berjumpa denganmu,
Tidak pernah melihat wajah dan rupamu…
Namun aku mencintaimu…

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد
وعلى آله وصحبه أجمعين.

Allohummashallialamuhammad

nasehatuntukdiridankeluarga

hamran

Humas BAZNAS

Kisah Sahabat Abu Bakar adalah salah satu kisah yang paling mengharukan dan penuh hikmah dalam sejarah Islam. Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat terdekat Rasulullah, adalah sosok yang sangat penting dalam perjuangan dakwah Islam. Keikhlasan dan keberaniannya dalam mendukung dakwah Nabi Muhammad menjadikannya sebagai contoh teladan bagi umat Islam. Sejak awal beliau memeluk Islam, Abu Bakar sudah menunjukkan komitmennya yang luar biasa dalam membantu dan mendampingi Rasulullah dalam setiap langkah perjuangan beliau.

Kisah Sahabat Abu Bakar mengajarkan kita tentang ketulusan dalam beriman, keberanian dalam menghadapi tantangan, dan pentingnya peran seorang sahabat dalam mendukung perjuangan agama. Dalam perjalanan hidupnya, Abu Bakar menghadapi banyak ujian, mulai dari tekanan dari kaum Quraisy hingga menghadapi pengorbanan besar dalam mendampingi Nabi dalam peristiwa hijrah yang sangat bersejarah. Melalui artikel ini, kita akan melihat lebih dalam tentang perjalanan hidup dan perjuangan Kisah Sahabat Abu Bakar, serta bagaimana beliau menjadi salah satu teladan terbaik dalam sejarah Islam.

Keikhlasan dalam Memeluk Islam
Kisah Sahabat Abu Bakar dimulai dari keputusan bersejarahnya untuk memeluk Islam. Abu Bakar adalah seorang pedagang kaya dan terhormat di Mekah. Pada saat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama di Gua Hira, beliau menyampaikan ajaran Islam dengan penuh keikhlasan. Abu Bakar, yang dikenal sebagai orang yang memiliki hati yang jernih dan akal yang tajam, segera menyadari kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah.

Abu Bakar adalah salah satu orang pertama yang memeluk Islam tanpa keraguan sedikit pun. Ini menjadi awal dari Kisah Sahabat Abu Bakar, yang tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga hidup umat Islam. Keikhlasan beliau dalam menerima ajaran Islam sangat mencolok, terutama karena beliau adalah orang yang sangat dihormati di kalangan orang Quraisy. Memeluk Islam pada waktu itu bukanlah keputusan yang mudah, mengingat ancaman dan tekanan yang datang dari kaum Quraisy yang menentang dakwah Rasulullah.

Keputusan Abu Bakar untuk memeluk Islam tidak hanya mengubah dirinya sendiri, tetapi juga berpengaruh besar terhadap orang lain. Beliau mengajak sahabat-sahabatnya untuk mengikuti Islam, dan beberapa di antaranya adalah orang-orang yang sangat penting dalam sejarah Islam, seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Abdul Rahman bin Auf. Kisah Sahabat Abu Bakar ini mengajarkan kita bahwa keikhlasan dalam beriman adalah fondasi utama dalam menjalani hidup sebagai seorang Muslim.

Pendamping Setia Rasulullah
Salah satu aspek yang paling mengesankan dalam Kisah Sahabat Abu Bakar adalah kesetiaannya yang tiada banding dalam mendampingi Nabi Muhammad. Abu Bakar selalu berada di sisi Rasulullah, baik dalam suka maupun duka. Salah satu momen penting yang menunjukkan kedekatan beliau dengan Nabi adalah saat peristiwa hijrah dari Mekah ke Madinah.

Saat Nabi Muhammad diperintahkan untuk berhijrah, beliau memilih Abu Bakar sebagai pendampingnya dalam perjalanan yang penuh dengan tantangan dan risiko tersebut. Dalam perjalanan hijrah, mereka berdua menghadapi berbagai cobaan, seperti dikejar-kejar oleh orang-orang kafir Quraisy yang ingin membunuh Rasulullah. Kisah Sahabat Abu Bakar ini menunjukkan betapa besar keberanian dan pengorbanannya. Meskipun mereka terjebak dalam gua Tsur dan dikejar oleh musuh, Abu Bakar tetap setia menemani Nabi, bahkan dalam keadaan yang sangat berbahaya.

Kisah ini juga menggambarkan bahwa Abu Bakar tidak hanya pendamping dalam arti fisik, tetapi juga dalam hal pemikiran dan jiwa. Abu Bakar adalah sosok yang selalu memberikan dukungan moral dan semangat kepada Rasulullah, bahkan ketika banyak orang lain meragukan keselamatan mereka. Kesetiaan beliau yang tidak tergoyahkan menunjukkan betapa besar rasa cinta dan kepercayaannya kepada Rasulullah, serta kesediaannya untuk berkorban demi agama.

Keberanian Menghadapi Tantangan
Dalam Kisah Sahabat Abu Bakar, kita juga bisa melihat keberanian beliau dalam menghadapi berbagai macam tantangan. Keberanian ini terlihat jelas pada saat-saat sulit seperti saat Rasulullah menerima ancaman dari kaum Quraisy dan saat beliau harus menanggung berbagai tekanan sosial dan ekonomi.

Sebagai seorang pedagang kaya, Abu Bakar sering kali mengorbankan hartanya untuk membantu perjuangan Islam. Beliau tidak hanya mengorbankan harta, tetapi juga waktu, tenaga, dan pikirannya untuk memperjuangkan dakwah Rasulullah. Salah satu tindakan besar yang menunjukkan keberaniannya adalah saat beliau membeli beberapa orang yang terperangkap dalam perbudakan karena keimanan mereka dan membebaskan mereka. Ini adalah salah satu contoh nyata dari Kisah Sahabat Abu Bakar yang menunjukkan pengorbanan dan keberaniannya dalam mendukung Islam.

Keberanian beliau juga tampak dalam saat-saat peperangan, ketika Abu Bakar selalu berada di garis depan untuk membantu umat Islam. Dalam Perang Badar, Uhud, dan peperangan lainnya, Abu Bakar selalu menunjukkan keberanian yang luar biasa. Kisah Sahabat Abu Bakar ini mengajarkan kita bahwa keberanian dalam berjuang di jalan Allah bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang keteguhan hati dan kesediaan untuk berkorban demi agama.

Pemimpin yang Adil dan Bijaksana
Setelah wafatnya Rasulullah, Kisah Sahabat Abu Bakar terus berlanjut dalam peranannya sebagai khalifah pertama umat Islam. Meskipun beliau tidak memiliki keinginan untuk memimpin, namun karena kecakapannya, beliau dipilih oleh umat Islam untuk memimpin mereka. Sebagai khalifah, Abu Bakar menunjukkan kepemimpinan yang adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap umat.

Salah satu keputusan besar yang diambil oleh Abu Bakar adalah melanjutkan peperangan melawan orang-orang yang murtad setelah wafatnya Rasulullah. Keberanian dan ketegasannya dalam menegakkan hukum Islam pada saat itu menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Islam. Beliau juga memulai proses pengumpulan Al-Qur’an yang akhirnya disusun menjadi satu mushaf yang digunakan oleh umat Islam hingga saat ini.

Kisah Sahabat Abu Bakar sebagai khalifah mengajarkan kita banyak hal tentang kepemimpinan, terutama pentingnya keadilan dan kebijaksanaan dalam memimpin umat. Beliau tidak hanya memimpin dengan keputusan yang bijak, tetapi juga selalu menjaga hubungan yang baik dengan umat, mendengarkan masukan dari mereka, dan memastikan bahwa kepentingan umat Islam selalu diutamakan.

Kisah Sahabat Abu Bakar adalah kisah yang penuh dengan keikhlasan, keberanian, dan pengorbanan. Dari saat ia pertama kali memeluk Islam, hingga perannya yang sangat penting dalam mendampingi Rasulullah dalam berbagai peristiwa besar, hingga kepemimpinannya sebagai khalifah, semuanya menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang sangat mencintai agama dan siap berkorban demi kebaikan umat Islam.

Sebagai sahabat terdekat Rasulullah, Abu Bakar adalah contoh teladan dalam hal keimanan, kesetiaan, keberanian, dan kepemimpinan. Kisah Sahabat Abu Bakar mengajarkan kita bagaimana menjalani hidup dengan penuh dedikasi kepada Allah dan Rasul-Nya, serta bagaimana menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Semoga kita dapat meneladani semangat dan pengorbanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117)

Bapak/Ibu/Saudara/i Jamaah yang hendak berkurban SAPI kolektif (patungan) atau kambing silakan menghubungi Panitia :
☎️📲
0821-4212-4800
(Bapak Yuliono)
0838-3593-2956
(Bapak Joko)
0895-3365-08603
(Bapak Saiful)
0852-1922-6106
(Fauzi Firdaus)

SAPI 1

  1. B.Mariyati RT . 06 RW 07 untk alhm BPK Karto giman.
  2. B Fatimah RT 06
    Untk alhm bpk Agus Hariyanto
  3. Fathullah
    Jl. Elang No. 11
  4. 4.ibu Suud faidah cangak 8
  5. 5.mbk Siami sekeluarga khusus untuk ibu Maerah dan alhm pk JUPRI. RT . 11 RW.07
  6. 6.Wulan Irawati ( sekeluarga ) RT 08 RW 07
  7. 7. Bpk Sunarli (sekeluarga) RT.11 RW.07

SAPI 2

  1. Hj. Nina Sihati Jl. Elang No. 9
  2. bpk.Marimin jlnPuter Utara
  3. Bu . Tony Suhartatik jln.Derkuku sel no2
  4. bpk ahmad Sahal sekluarga jln derkuku
  5. .Bpk . Panji jln puter (

berikut anjuran untuk berqurban bagi umat Islam beserta dalilnya:

Berqurban atau menyembelih hewan qurban pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah salah satu syariat Islam yang sangat dianjurkan.


Hukum dan Kedudukan Qurban

Hukum berqurban adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat ditekankan. Bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial, sangat dianjurkan untuk melaksanakannya. Ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:

فَصَلِّلِرَبِّكَوَانْحَرْ

Artinya: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Ayat ini secara eksplisit memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk salat dan berqurban, yang kemudian menjadi teladan bagi umat Islam.


Keutamaan Berqurban

Banyak keutamaan yang bisa didapatkan dari berqurban, di antaranya:

  • Bentuk Ketaatan dan Ketakwaan: Qurban adalah bentuk ketaatan kepada perintah Allah SWT dan meneladani Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan putranya Ismail AS demi memenuhi perintah Allah. Allah SWT berfirman: لَنْيَنَالَاللَّهَلُحُومُهَاوَلَادِمَاؤُهَاوَلَكِنْيَنَالُهُالتَّقْوَىٰمِنْكُمْۚكَذَٰلِكَسَخَّرَهَالَكُمْلِتُكَبِّرُوااللَّهَعَلَىٰمَاهَدَاكُمْۗوَبَشِّرِالْمُحْسِنِينَ Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37) Ayat1 ini menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah fisik hewan qurban, melainkan ketakwaan dan keikhlasan hati orang yang berqurban.
  • Pahala Besar: Setiap helai bulu hewan qurban akan menjadi pahala bagi yang berqurban. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan yang paling dicintai Allah dari Bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya,2 bulu-bulunya, dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban3 akan jatuh pada suatu tempat di sisi Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka berbahagialah dengannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
  • Berbagi dan Mempererat Ukhuwah Islamiyah: Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat, sehingga mempererat tali persaudaraan dan membantu mereka yang membutuhkan.

Anjuran Umum

  1. Niat yang Ikhlas: Pastikan niat berqurban semata-mata karena Allah SWT.
  2. Pilih Hewan Terbaik: Pilihlah hewan qurban yang sehat, tidak cacat, dan memenuhi syarat syariat (usia, jenis).
  3. Laksanakan Tepat Waktu: Qurban dilaksanakan setelah salat Idul Adha hingga akhir hari Tasyriq.
  4. Nikmati Sebagian, Sedekahkan Sebagian Besar: Dianjurkan untuk memakan sebagian kecil dari daging qurban dan menyedekahkan sebagian besar kepada yang membutuhkan.

Dengan berqurban, kita tidak hanya mendapatkan pahala yang berlimpah, tetapi juga turut serta dalam menyebarkan kebaikan dan kebahagiaan di tengah masyarakat.